Seputarkaltim.id, Samarinda – Bank Indonesia memastikan stabilitas harga di Kalimantan Timur pada awal 2026 masih berada dalam jalur terkendali. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa kinerja ekonomi daerah tetap bergerak stabil di tengah dinamika harga global dan domestik.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengungkapkan inflasi Kaltim pada Januari 2026 tercatat rendah secara bulanan sebesar 0,04 persen (month to month). Sementara secara tahunan, inflasi berada di level 3,76 persen (year on year), masih sejalan dengan sasaran nasional.
Ia menjelaskan, tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, seiring tren kenaikan harga emas dunia. Selain itu, penyesuaian harga pada kelompok pakaian serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut memberikan dorongan terbatas terhadap inflasi.
Meski demikian, Jajang menegaskan tekanan tersebut masih dapat diredam. Penurunan harga pada kelompok makanan, khususnya akibat panen raya nasional, serta normalisasi tarif transportasi dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, berperan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
“Inflasi yang tetap terkendali menunjukkan keseimbangan antara sisi permintaan dan pasokan, sekaligus mencerminkan aktivitas ekonomi Kalimantan Timur yang terus berjalan dengan baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas tersebut. Penguatan koordinasi antarinstansi, pelaksanaan operasi pasar, hingga penyelenggaraan gerakan pangan murah terus dioptimalkan untuk mengantisipasi potensi gejolak harga.
Bank Indonesia optimistis, dengan inflasi yang terjaga dan sinergi kebijakan yang kuat, ekonomi Kalimantan Timur memiliki fondasi yang solid untuk melanjutkan tren pertumbuhan pada periode mendatang.










