SEPUTARKALTIM.ID, SAMARINDA – Upaya pencegahan kebakaran selama Ramadan di Kota Tepian tak hanya bertumpu pada petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar), tetapi juga pada peran aktif warga dan relawan di tingkat lingkungan.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Disdamkar Samarinda, Akhmad Suprianto, menyampaikan pihaknya tetap menyiagakan 11 posko yang beroperasi 24 jam penuh. Personel dibagi dalam tiga regu untuk memastikan respons cepat bila terjadi keadaan darurat.
Meski angka kebakaran menurun dari 23 kejadian pada Ramadan 2024 menjadi 18 kejadian pada 2025, ia menegaskan potensi risiko tetap tinggi. Aktivitas memasak saat sahur dan berbuka menjadi momen rawan, terutama jika warga lengah.
Lebih dari 60 persen kasus kebakaran, lanjutnya, dipicu masalah kelistrikan dan penggunaan kompor gas yang tidak diawasi. Penggunaan stopkontak bertumpuk serta instalasi listrik lama menjadi ancaman serius di permukiman padat.
Senior Relawan Kebakaran Samarinda, Teguh Setia Wardana, menilai faktor perilaku manusia menjadi kunci utama. Keletihan setelah sahur atau kesibukan menyiapkan takjil kerap membuat kompor terlupa dalam kondisi menyala.
Relawan yang tersebar hingga tingkat RT disebut berperan sebagai deteksi dini melalui patroli rutin dan edukasi langsung kepada warga. Selain itu, masyarakat dianjurkan memiliki APAR atau minimal menyiapkan karung basah sebagai langkah awal penanganan api.
“Kunci keselamatan ada pada kesadaran bersama. Kalau warga disiplin, risiko kebakaran bisa ditekan,” tegas Teguh. (*)










